DARK MODE 

Thursday, 28 May 2026 by

Pesta Pora dan Ilusi Kekayaan



Epictetus (50-135 M) adalah seorang mantan budak pada, sosok besar yang lahir dari masa perbudakan, yang kemudian menjadi ahli filsafat kenamaan di Roma dan Yunanii. Menurut Epictetus, filsafat adalah sebuah jalan kehidupan, bukan sekadar sebuah disiplin ilmu di menara gading. Inti ajarannya berkisar pada satu prinsip pokok, yaitu ia mengatakan bawah di dunia ini, ada hal-hal yang dapat kita kendalikan, dan ada hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Dalam salah satu ajarannya, Epictetus mengumpamakan kehidupan ini bak sebuah perjamuan makan atau pesta pora. BANYANGKAN..

"Ingatlah bahwa Anda harus berperilaku dalam hidup ini seperti di sebuah perjamuan makan. Apakah sebuah hidangan diedarkan dan tiba di depan Anda? maka ulurkan tangan, dan ambilahh secukupnya..

dan apabila hidangan itu berlalu dari hadapanmu? INGATTT Jangan menahan Hindangan itu.. dan apakah hidangan itu belum tiba? Jangan menjulurkan keinginanmu dari jauh untuk merebutnya, melainkan tunggulah dengan tenang hingga hidanganitu benar-benar berada di hadapanmu..

Sebuah nasehat kuno yang tampak sepele, namun sangat tidak sepele jika direnungkan dan diterapkan di dalam kehidupan kita di era modern saat ini. 

Dalam kondisi itu, pertanyaan yang menggelitik ialah, apa relevansinya dengan SAYA..Apa relevansinya dengan  kehidupan pasar modal di Abad XXI ini?

Pasar saham adalah sebuah sistem yang RUMIT, SUNGKAT, UNPREDICTIBLE, BERUBAH-HUBAH, BERJIWA, TAK MATI. Di dalamnya, pergerakan harga saham, sentimen pasar, dan rumor yang digoreng oleh berbagai pihak dan banyak pihak. Dan itu adalah hal-hal yang mutlak berada di luar kendali kita. 

Namun, apa yang sering terjadi? Ketika sebuah saham tiba-tiba meroket harganya, naik tinggi, mengunggah batin, hidangan itu tampak menggiurkan. Berita menyebar luas, menampilkan ilusi bahwa banyak orang mendadak menjadi kaya.

Di sinilah penyakit kronis bernama Fear of Missing Out (FOMO) alias rasa takut tertinggal, mulai menjangkiti pikiran orang. Keserakahan mengambil alih akal sehat kita, ia seperti wabah, menyebar di akal. Layaknya tamu perjamuan yang rakus dan kelaparan, para investor berlomba-lomba menjulurkan tangannya secara membabi buta.

Lantas melompat dan berusaha untuk merebut hidangan saham tersebut tanpa menganalisis nilai fundamentalnya, tanpa tahu apa isi sebenarnya dari hidangan tersebut. Mereka bertindak seolah-olah taku lain mendapatkan untung sementara mereka tidak. Mereka menggantungkan keputusan finansialnya pada sesuatu yang berada di luar kendali mereka, riuh-rendah suara pasar.

Akibatnya? Ketika hidangan itu ternyata hanyalah gelembung kosong yang meletus, mereka menelan kerugian . Modal jerih payahnya hangus, ternyata perjamuan itu hanyalah  sekadar euforia sesaat. 

Orang yang mengandalkan keputusan dan harapannya pada riuh kerumunangagal menggunakanakalnya dalam hal mengambil sebuah keputusan.

Renungan: Mengendalikan keserakahan dari kerumunan (FOMO) di PASAR SAHAM, adalah bukti kemerdekaan seorang investor sejati. - (28/05/2026)

No comments:

Post a Comment