Ditulis pada 12 Juli 2017 oleh Prof Wim Poli.
“Sadarilah bahwa pikiran Anda adalah sumber kekuatan Anda.” Itulah kata-kata yang muncul dari perenungan Marcus Aurelius Antoninus Augustus (121 – 180), Kaisar Romawi pada tahun 161-180. Kata-kata itu tertulis di dalam bukunya, “Meditations,” setebal 12 jilid. Umumnya orang dapat menerima pendapat tersebut sebagai motivasi untuk pengembangan dirinya menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Tetapi, pernyataan itu menjadi ekstrim ketika dirumuskan dalam filsafat yang bernama Eksistensialisme. Tokoh besarnya adalah Jean-Paul Sartre (1905-1980) dari Perancis, yang berpendapat bahwa manusia telah ditakdirikan untuk bebas berpikir dan menentukan eksistensinya sendiri. Sebagaimana biasa, apa yang ekstrim akan berhadapan dengan kenyataan yang menggugatnya.
Kritik terhadap Eksistensialisme dapat diungkapkan secara sederhana melalui sebuah percakapan imajiner berikut antara dua mahasiswa, A dan B, ketika selesai mendengar kuliah tentang Eksistensialisme.
A: “Terus terang, saya sebenarnya sudah lama berpikir mau seperti Anda”.
B: “Bagus. Menurut kuliah tadi, eksistensi Anda ditentukan oleh pikiran Anda sendiri. Tidak ada masalah.”
A: “Kenyataannya ada masalah. Saya mau jangkung seperti Anda.”
Renungan: Ujilah setiap pendapat orang lain dengan kenyataan yang Anda sendiri alami. Itulah eksistensi Anda yang bermakna.
No comments:
Post a Comment